Media sosial kembali diramaikan oleh berbagai video yang memperlihatkan aksi demonstrasi. Sejumlah postingan bahkan disertai narasi yang membuat seolah-olah peristiwa tersebut sedang terjadi saat ini.
Namun, masyarakat diminta tidak terburu-buru mempercayai maupun membagikan video tersebut. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyebut bahwa sejumlah konten yang beredar ternyata merupakan rekaman lama yang kembali diunggah dengan konteks berbeda. Ada pula konten yang menggabungkan kejadian dari luar negeri dan kemudian diklaim sebagai peristiwa yang terjadi di Indonesia.
Berawal dari Video yang Terlihat Meyakinkan
Bayangkan seseorang sedang membuka media sosial. Di layar ponselnya muncul sebuah video yang memperlihatkan kerumunan massa, kendaraan aparat, suara teriakan, dan suasana yang terlihat tegang. Video tersebut kemudian diberi keterangan seolah-olah kejadian baru saja berlangsung. Karena tampilannya terlihat nyata, orang tersebut mungkin langsung mempercayainya. Tanpa memeriksa tanggal, lokasi, maupun sumber awal video, unggahan itu kemudian dibagikan kepada teman dan keluarga.
Dalam hitungan menit, informasi yang belum tentu benar bisa berpindah dari satu akun ke akun lainnya. Inilah yang membuat hoaks semakin sulit dikendalikan.
- Video Lama Bisa Terlihat Seperti Kejadian Baru#
Salah satu pola yang ditemukan adalah penggunaan rekaman lama yang diunggah kembali tanpa menjelaskan waktu dan konteks sebenarnya. Akibatnya, orang yang melihat video tersebut dapat mengira bahwa kejadian dalam rekaman sedang berlangsung. - Masalahnya bukan selalu terletak pada videonya.
Sebuah video bisa saja benar-benar merekam aksi demonstrasi yang pernah terjadi. Tetapi jika video lama tersebut diberi keterangan seolah-olah merupakan kejadian terbaru, informasi yang diterima masyarakat menjadi menyesatkan. - Selain video lama, terdapat pula konten yang menggunakan kejadian di negara lain dan kemudian diklaim sebagai peristiwa di Indonesia. Pola seperti ini membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara fakta dan informasi palsu.
- Mengapa Hoaks Mudah Menjadi Viral
[karna emosi tidak bisa di kontrol ]Konten yang membuat seseorang takut, marah, khawatir, atau penasaran biasanya lebih cepat mendapatkan perhatian.
Satu Tombol Bisa Membuat Informasi Menyebar
Di era media sosial, menyebarkan informasi hanya membutuhkan beberapa detik.
Seseorang melihat video.
Kemudian menekan tombol [bagikan]
Temannya melihat.
Temannya membagikan lagi.
Begitu seterusnya.
Dalam waktu singkat, sebuah informasi yang belum diverifikasi dapat terlihat seperti sebuah fakta hanya karena sudah dibagikan oleh banyak orang.
Padahal, banyaknya orang yang membagikan sebuah informasi tidak membuktikan bahwa informasi tersebut benar. Viral bukan berarti valid.
Baca Artikel Selanjutnya : Kenakalan Remaja Sejak Dunia Dini
Bagaimana Cara Mengeceknya?
Ada beberapa langkah sederhana sebelum membagikan video yang sedang viral.
- periksa sumber awalnya. cari tahu siapa yang pertama memposting video tersebut.
- perhatikan waktu dan lokasi. Apakah video tersebut benar-benar direkam pada waktu dan tempat yang disebutkan dalam video
- cari pemberitaan dari media yang kredibel. Jika sebuah kejadian besar benar-benar sedang berlangsung, biasanya terdapat lebih dari satu sumber yang melaporkannya.
- jangan hanya membaca judul atau keterangan video. Tonton dan perhatikan konteksnya secara keseluruhan.
- jika masih ragu, jangan ikut menyebarkannya.
Dari Satu Video, Kita Bisa Belajar
Fenomena video demonstrasi lama yang kembali beredar menjadi pengingat bahwa kehidupan digital membutuhkan sikap kritis. Tidak semua yang muncul di layar ponsel adalah fakta. Ada video yang memang benar, tetapi konteksnya diubah. Ada informasi yang sengaja dibuat palsu. Ada pula rekaman dari tempat dan waktu berbeda yang kemudian disatukan dengan narasi tertentu. Karena itu, masyarakat tidak harus menjadi ahli teknologi untuk melawan hoaks.